Di kalangan pelaku industri konstruksi, masih sering muncul perdebatan fundamental mengenai status legalitas Commanditaire Vennootschap (CV). Banyak Owner perusahaan yang masih beranggapan bahwa CV adalah badan hukum setara dengan Perseroan Terbatas (PT). Kesalahpahaman mendasar ini seringkali menjadi root cause penolakan perizinan, kegagalan dalam proses tender, hingga sengketa hukum di kemudian hari. Tahukah Anda bahwa berdasarkan data LKPP, ribuan peserta tender konstruksi gugur setiap tahun hanya karena masalah legalitas entitas bisnis yang tidak sesuai persyaratan?
Sebagai Director atau Business Development Manager, apakah Anda yakin struktur CV yang Anda miliki sudah memenuhi semua persyaratan terbaru untuk mendapatkan Sertifikat Badan Usaha (SBU) Konstruksi yang valid? Tanpa pemahaman yang tepat tentang status hukum CV dan implikasinya terhadap SBU dan SKK Konstruksi, perusahaan Anda berisiko besar kehilangan peluang tender proyek-proyek bernilai tinggi. Legalitas yang rapuh adalah hambatan terbesar ekspansi bisnis di sektor ini.
Inti dari masalah ini adalah perbedaan mendasar antara Badan Hukum dan Non-Badan Hukum. Status ini menentukan sejauh mana tanggung jawab dan aset pribadi pendiri terpisah dari aset bisnis. Di mata Kementerian PUPR dan LPJK, status hukum CV memengaruhi proses pengurusan SBU dan batasan nilai proyek yang boleh dikerjakan. Memahami perbedaan ini adalah langkah pertama menuju legal compliance total.

Baca Juga: Cara Pendirian PT: Panduan Wajib Legalitas Kontraktor dan Konsultan Konstruksi
Definisi Hukum: Mengapa CV Bukan Badan Hukum
Status hukum suatu entitas bisnis menentukan pertanggungjawaban legalnya. CV memiliki karakteristik yang membedakannya dari PT.
Prinsip Badan Hukum vs Non-Badan Hukum
Sebuah entitas disebut Badan Hukum jika memiliki kekayaan terpisah dari kekayaan pribadi pendirinya dan dapat melakukan perbuatan hukum atas nama sendiri (subjek hukum). Contoh utama Badan Hukum adalah PT dan Koperasi. CV (Non-Badan Hukum) tidak memiliki pemisahan kekayaan yang sempurna; Sekutu Komplementer (sekutu aktif) memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas atas utang perusahaan, sedangkan Sekutu Komanditer (sekutu pasif) bertanggung jawab sebatas modal yang disetorkan. Sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), CV tidak memenuhi kriteria tersebut.
Implikasi Status Non-Badan Hukum terhadap Risiko Bisnis
Karena CV bukan badan hukum, maka aset pribadi Sekutu Komplementer dapat disita untuk menutupi kerugian atau utang CV jika terjadi kebangkrutan atau sengketa, termasuk sengketa proyek konstruksi. Risiko ini jauh lebih tinggi dibandingkan PT di mana tanggung jawab pemegang saham terbatas pada modal disetor (limited liability), sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Baca Juga: Strategi Kontraktor Bekasi Menang Tender Rehabilitasi Pasar Sungai Penuh Rp46,8 M
CV dalam Sistem Perizinan Konstruksi (SBU & SKK)
Meskipun bukan badan hukum, CV tetap diakui dalam UU Jasa Konstruksi dan dapat mengurus SBU, namun dengan batasan yang tegas.
Dasar Hukum SBU untuk CV
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi dan regulasi turunannya (seperti Peraturan Menteri PUPR) mengakui CV sebagai salah satu bentuk Badan Usaha Jasa Konstruksi (BUJK) yang berhak mendapatkan Sertifikat Badan Usaha (SBU). Proses pengurusan SBU CV kini dilakukan melalui sistem OSS RBA dan diverifikasi oleh LPJK dengan persyaratan yang sedikit berbeda dari PT. Sesuai Peraturan LPJK, SBU adalah syarat mutlak untuk melaksanakan proyek konstruksi.
Batasan Kualifikasi Proyek CV di Mata LKPP
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 (Perubahan atas Perpres 16/2018) membatasi kualifikasi BUJK Non-Badan Hukum (CV) hanya pada kualifikasi Usaha Kecil. Batasan nilai proyek yang boleh diikuti CV adalah hingga Rp 10 Miliar untuk tender konstruksi. Keterbatasan ini adalah konsekuensi langsung dari status non-badan hukum CV.

Baca Juga: Panduan Proses Perizinan Konstruksi: SBU, SKK, dan Kepatuhan OSS RBA Terbaru
Prosedur Pengurusan SBU CV via OSS RBA dan LPJK
Proses pengurusan SBU kini terintegrasi penuh melalui sistem daring yang membutuhkan ketelitian data yang tinggi.
Persyaratan Dokumen SBU untuk CV
Untuk mengajukan SBU Konstruksi melalui OSS RBA, CV wajib memiliki:
- NIB (Nomor Induk Berusaha) yang mencantumkan KBLI Jasa Konstruksi yang tepat (misalnya: 41011 untuk Konstruksi Gedung).
- Akta Pendirian CV dan Perubahannya yang telah didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).
- Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK Konstruksi) Tenaga Ahli yang akan didaftarkan sebagai PJTBU (Penanggung Jawab Teknis Badan Usaha) CV.
- Bukti modal disetor atau ekuitas yang memadai sesuai kualifikasi Usaha Kecil.
- Bukti kepesertaan BPJAMSOSTEK dan SPT Tahunan.
Integrasi SKK Konstruksi dan PJTBU
Kunci sukses pengurusan SBU CV adalah memastikan Tenaga Ahli (misalnya Site Manager atau QAQC Manager) yang ditunjuk sebagai PJTBU memiliki SKK Konstruksi yang valid dan sesuai dengan sub-klasifikasi SBU yang diajukan. PJTBU adalah individu yang bertanggung jawab penuh atas kualitas teknis proyek yang dikerjakan oleh CV tersebut.
Shutterstock mendemonstrasikan proses sertifikasi kompetensi tenaga kerja yang menjadi syarat utama SBU.

Baca Juga: Proses Mudah Cara Daftar CV Konstruksi: Legalitas, SBU, dan OSS RBA Terkini
Manfaat Legalitas CV yang Tepat: Akses Tender dan Kredibilitas
Meskipun terbatas pada Usaha Kecil, SBU yang valid bagi CV membuka gerbang ke pasar tender yang luas dan meningkatkan kredibilitas bisnis.
Memenangkan Tender Proyek Kecil Pemerintah
Tender pemerintah untuk proyek kualifikasi Kecil (< Rp 10 Miliar) seringkali diprioritaskan untuk BUJK Kecil seperti CV. Dengan SBU Konstruksi yang aktif dan terdaftar di LPJK, CV Anda memenuhi syarat kualifikasi administrasi wajib LKPP. Tanpa SBU ini, mustahil CV Anda dapat mengakses tender LPSE.
Kredibilitas Kontraktor dan Mitra Swasta
Bahkan dalam proyek swasta atau menjadi Subkontraktor, kepemilikan SBU dan SKK Konstruksi memberikan sinyal kuat tentang profesionalisme dan legal compliance perusahaan Anda. Developer atau General Contractor besar akan lebih memilih CV yang telah terverifikasi LPJK untuk memitigasi risiko hukum dan mutu proyek.

Baca Juga: Panduan Wajib Akta Badan Usaha dan Legalitas Konstruksi di OSS RBA 2025
Studi Kasus: SBU Ditolak Karena Salah Status Hukum
Kelalaian dalam memahami status hukum CV dan PT seringkali menjadi hambatan dalam perizinan konstruksi.
Kronologi Penolakan SBU di Sistem LPJK
Sebuah CV mengajukan pengurusan SBU untuk klasifikasi Bangunan Gedung, namun saat verifikasi LPJK menemukan data NIB mencantumkan modal yang terlalu besar, jauh melampaui batas wajar Usaha Kecil dan memiliki struktur permodalan yang menyerupai PT. Pihak LPJK menolak permohonan tersebut karena inkonsistensi antara status CV (Non-Badan Hukum) dan kapasitas modal yang diklaim. Solusi yang disarankan adalah mengkonversi CV menjadi PT untuk kualifikasi Menengah atau Besar.

Baca Juga: Wajib Baca: Panduan Lengkap Surat Perjanjian Kontrak Kerja (SPKK) dan Legalitas Konstruksi
Kesalahan Umum Perusahaan CV dalam Perizinan Konstruksi
Banyak CV yang membuat kesalahan mendasar yang menghambat proses pengurusan SBU dan membatasi peluang bisnis mereka.
Lima Kesalahan Fatal CV dan Solusinya
- Tidak Memperbarui Akta di Kemenkumham: Akta Pendirian CV wajib didaftarkan di Kemenkumham untuk mendapatkan Nomor Pendaftaran. Akta yang tidak terdaftar akan menyulitkan proses NIB dan SBU di OSS RBA.
- SKK PJTBU Kedaluwarsa/Tidak Relevan: Menggunakan Tenaga Ahli dengan SKK Konstruksi yang sudah mati atau tidak sesuai dengan klasifikasi SBU yang diajukan. Pastikan SKK selalu aktif dan link and match dengan SBU yang dimiliki.
- Pengabaian Kepesertaan BPJAMSOSTEK: Permen PUPR secara tegas mensyaratkan bukti kepesertaan BPJAMSOSTEK sebagai syarat pengurusan SBU. Banyak CV Kecil yang mengabaikan kewajiban ini, sehingga pengajuan SBU mereka ditolak.
- Salah KBLI di NIB: Kesalahan memilih KBLI Jasa Konstruksi (misalnya memilih KBLI Perdagangan) saat registrasi NIB di OSS RBA. Hal ini menghambat penerbitan Izin Komersial Jasa Konstruksi dan SBU.
- Tidak Memahami Batasan Nilai Proyek: Mencoba mengikuti tender dengan nilai di atas Rp 10 Miliar. CV harus fokus pada tender Usaha Kecil atau segera melakukan konversi bisnis ke PT untuk naik kelas.

Baca Juga: Panduan Lengkap: Legalitas Perusahaan Konstruksi, Kunci Pengurusan SBU Sukses
Kesimpulan: Transisi Legalitas untuk Pertumbuhan Bisnis
Mitos bahwa CV adalah badan hukum harus dibuang jauh-jauh. CV adalah Non-Badan Hukum dan status ini membawa batasan tegas, terutama dalam permodalan dan batasan nilai proyek konstruksi yang boleh ditangani. Jika CV Anda berencana ekspansi ke proyek tender Menengah atau Besar, konversi menjadi PT adalah keharusan strategis.
Dapatkan penawaran khusus paket SBU + SKK untuk perusahaan Anda. Konsultasi gratis sekarang di Indosbu.com - karena setiap tender adalah peluang yang tidak boleh terlewat. Percepat legalitas konstruksi perusahaan Anda. Konsultasi pengurusan SBU bersertifikat LPJK sekarang untuk memastikan kepatuhan CV Anda.
Disclaimer Legalitas: Artikel ini disajikan sebagai informasi konsultasi bisnis dan perizinan konstruksi, berdasarkan UU Jasa Konstruksi, Perpres 12/2021, dan regulasi Kementerian PUPR/ LPJK terbaru. Indosbu.com adalah konsultan sertifikasi konstruksi terpercaya yang membantu pengurusan SBU, SKK, dan izin usaha konstruksi Anda, memastikan compliance legalitas secara menyeluruh.
FAQ Pertanyaan Umum SBU dan Legalitas CV
- Apa keunggulan utama CV dibandingkan PT dalam konstruksi?
Keunggulan utama CV terletak pada proses pendiriannya yang lebih cepat, biaya yang lebih rendah, dan regulasi internal yang lebih sederhana dibandingkan PT. Untuk proyek konstruksi kualifikasi Kecil, CV adalah pilihan yang efisien. Namun, kelemahannya adalah tanggung jawab Sekutu Komplementer yang tidak terbatas dan batasan nilai tender maksimal Rp 10 Miliar.
- Apakah SKK Tenaga Ahli CV harus berbeda dengan PT?
SKK Konstruksi yang dimiliki Tenaga Ahli tidak berbeda antara CV dan PT. SKK adalah sertifikat yang melekat pada individu. Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana Tenaga Ahli tersebut didaftarkan sebagai PJTBU dalam SBU. SKK Tenaga Ahli yang valid adalah syarat mutlak, baik untuk CV maupun PT, untuk pengurusan SBU.
- Berapa lama estimasi waktu pengurusan SBU Konstruksi untuk CV?
Jika semua dokumen persyaratan, terutama NIB, Akta, dan SKK Konstruksi PJTBU sudah lengkap dan valid, proses pengurusan SBU CV melalui OSS RBA hingga penerbitan Sertifikat LPJK yang terverifikasi membutuhkan waktu rata-rata 2 hingga 4 minggu. Keterlambatan sering terjadi karena masalah data SKK Tenaga Ahli atau ketidaksesuaian data di sistem OSS.
- Apa yang terjadi jika SBU CV kedaluwarsa?
Jika SBU CV kedaluwarsa, perusahaan secara otomatis kehilangan hak legalnya untuk melaksanakan dan mengajukan penawaran di proyek Jasa Konstruksi, baik tender pemerintah maupun swasta. Perusahaan wajib segera melakukan perpanjangan SBU melalui LPJK dengan proses yang sama ketatnya dengan pengurusan SBU baru, termasuk verifikasi ulang SKK PJTBU.
- Apakah CV bisa upgrade ke kualifikasi Menengah?
Tidak, berdasarkan regulasi LKPP terbaru, CV (sebagai Non-Badan Hukum) hanya diperbolehkan berada di Kualifikasi Kecil dan dibatasi nilai proyeknya. Untuk mencapai Kualifikasi Menengah atau Besar, perusahaan wajib melakukan konversi status hukum dari CV menjadi PT terlebih dahulu, baru kemudian mengajukan upgrade SBU.
- Apakah NIB sudah menggantikan IUJK bagi CV?
NIB (Nomor Induk Berusaha) yang diterbitkan melalui OSS RBA berfungsi sebagai identitas utama dan berlaku sebagai Izin Usaha (IU). Untuk Jasa Konstruksi, NIB akan mengeluarkan Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) yang terintegrasi. Namun, IUJK ini baru dianggap valid jika CV telah memenuhi persyaratan risiko, yaitu memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang telah diverifikasi LPJK.